Sabtu, 09 Mei 2009

JAS MERAH ITU...!!!

Hari masih dini, lelaki tua itu tertegun memandangi langit-langit rumahnya yang ditumbuhi laba-laba. Lampu templok dengan sinarnya yang berkedip-kedip menyiratkan ketabahan. Perlahan dibukanya jendela kusam yang telah lama tak disentuh lap basah. Angin malam yang sejuk mengaliri pori-porinya. Suasana senyap yang dingin sebeku jiwanya.
Lalu, ia beringsut meneliti isi kamar. Beberapa potong pakaian terserak di lemari bambu. Meja reot yang ditemani dua kursi terhampar kaku. Setumpuk buku. Majalah-majalah. Robekan kertas. Dan gambar-gambar…ah…entahlah, sudah berapa lama ia menempel di dinding lusuh itu, hingga yang nampak hanya garis-garis atau sedikit lengkungan yang memberikan banyak penafsiran.
Lelaki itu sangat kukuh mempertahankan haknya untuk tetap tinggal di rumah itu, peristirahatan yang menyisakan banyak kenangan, walau ia harus tinggal sendirian. Ia bangga dengan segala jerih payah yang telah diukirnya. Prinsipnya ia ingin berdiri di atas kaki sendiri, pantang menggantung pada orang lain.
Aneh…, tiba-tiba ia tersaruk-saruk menuju lemari pakaian. Tak biasanya ia langsung menuju tempat itu. Barang kali baru saja ia mendapat ilham yang mengingatkannya akan sepotong baju yang kian lama mendekam di lemari. Dijulurkannya jari-jemari kurus itu sambil meneliti satu persatu. Sesekali senyum simpul menghiasi wajahnya yang berlembah. Kulit yang mengerut menyiratkan rentetan sejarah yang penuh liku.
Perlahan ia keluarkan sepotong baju kesayangannya. Jas tua warna merah sedikit motif unik yang kini agak kecoklatan termakan usia. Kali ini ia tak dapat bergeming. Ditatapinya dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca. Menetes. Namun kembali ia tersenyum.
“Jas itu bukan sembarangan.…!!!”, bisiknya. Demikian pula kalimat pembelaannya setiap kali si Sentot, anak semata wayang, meminta agar ia tidak memakai jas itu lagi. Tapi justru karena sering dicibir, dihujat dengan berbagai alasan, jas itu semakin ia sayang. Baginya orang-orang sekarang mudah sekali melupakan sejarah, seperti membuang puntung rokok di tempat sampah.
Terbayang masa lalu yang penuh dengan letupan semangat heroik. Ia termasuk tokoh pejuang ‘45 yang telah membaktikan diri demi tercapainya kemerdekaan yang sebenar-benarnya. Masa-masa sulit telah dilampaui dengan cemerlang. Tanpa ragu. Tanpa keluh kesah. Bersama kawan-kawannya ia melempar tombak, memuntahkan bedil, dan mayat-mayat pun berjatuhan, tergeletak kaku. Lagi… bibirnya menyungging senyum.
Suatu waktu, tanpa skenario yang jelas, dan apa pula yang menyebabkan peristiwa itu terjadi, ia telah lupa. tokoh pujaannya dan juga pujaan orang banyak, Bung Karno, sekonyong-konyong menyempatkan diri datang ke kotanya dan berkenalan akrab dengan para pejuang yang merindukannya, seperti laiknya seorang artis menjumpai para penggemarnya. Tapi dulu masih belum ada demam tanda tangan, paling banter hanya menciumi tangan suci sang idola atau memadanginya lama-lama tanpa kejap. Itu sudah menjadi anugerah tak ternilai.
Tapi lain bagi lelaki lanjut itu, ia justru mendapat penghormatan istimewa karena terpilih sebagai satu-satunya orang yang berhak mendapat kenang-kenangan dari Bung Karno berupa pakaian kebesaran yang digunakan beliau selama berkunjung. Entah apa pertimbangannya. Barangkali ia termasuk orang yang paling “rese” saat itu sehingga menarik perhatian.
Dulu, pakaian itu sering digunakan dan dipamerkan kepada teman-temannya. Banyak juga yang iri atas kemujuran nasibnya. Ia hanya tertawa-tawa melihat wajah cemberut kawan-kawan. Ia hanya bisa meminjamkan jas itu untuk dijajal semenit dua menit. Setelah itu langsung ia pun segera menyitanya untuk segera dibawa pulang. “Diamankan…!!!” Esok harinya ia melakukan beberapa kali penawaran jasa bagi yang mau bayar seringgit dua ringgit. Haaaah, asyik juga…!!!
Bung Karno pernah membisikkan kepadanya agar merawat jas itu, jangan sekali-kali kotor apalagi hancur karena kemalasan atau keteledoran meskipun telah usang kelak. Diberitahukannya teknis perawatan pakaian kebesaran itu.
“Bahannya saja merupakan hasil tenunan halus Samarinda, batiknya dari goresan putri-putri keraton Jogja, penjahitnya didatangkan dari Surabaya, Pokoknya ‘ndak gampang deh mencari duanya. Jadi kamu harus hati-hati merawatnya. Kamu harus begini….”, demikian tuturnya panjang lebar.
***
Pagi itu seperti biasa, istri Sentot mengirim sarapan pagi untuknya. Lelaki yang usianya kini sudah berkepala delapan itu duduk tercenung di beranda sambil mengenakan jas kebanggaannya. Di depannya terhampar pemandangan asri yang sejuk. Ia masih fasih bersiul lagu-lagu perjuangan.
“Pak, makanan sudah siap, silakan sarapan dulu”, sapa ramah menantunya memenggal angan-angannya yang mengawan. Ia menarik nafas panjang, lalu membuka rantang yang tersedia di depannya.
“Ahaa, kau tahu juga makanan kesukaanku…, tempe goreng, sambel trasi, dan sayur daun singkong. Nikmat benar. Lha.. Kamu sudah makan?”
“Sudah Pak, tadi sebelum ke sini.”
“Haah, Apa…, Jadi kau beri aku makanan sisamu ?!”
“Ee…bukan begitu Pak, sa..saya tadi makan masakan sisa kemarin.”
Istri Sentot agak gelagapan menjawab pertanyaan yang tak disangka-sangka itu. Jawaban sambil lalunya ternyata menegangkan suasana. Ia memang sudah tahu tabiat mertuanya yang tak mau dinomorduakan. Semua harus mendahukukan dia. Makanya istri Sentot bersikeras mengajak Sentot untuk mencari rumah kontrakan untuk tidak tidak tinggal serumah dengan mertuanya. Sebelum mati berdiri oleh kekasaran lelaki itu.
Pakaian itu kembali ia gunakan beberapa hari ini. Dan bahkan rupanya ia tidak mau ganti dengan yang lain. Baunya mulai menusuk karena tak pernah diperkenankan untuk dicuci. Sentot mulai kegerahan. Bukan karena ia tidak suka atau ngiri seperti teman-teman bapaknya dulu, tapi malu kepada tetangga yang sering menertawakan ulah aneh bapaknya. Kurang pas dengan selera umum.
“Maaf. Pak. Saya sangat senang melihat bapak bahagia akhir-akhir ini. Apalagi penampilan Bapak semakin keren dengan jas itu. Tapi, bolehkan Bapak tanggalkan sebentar untuk sekadar dicuci oleh istri saya? Untuk sekali ini saja.”
“Ah…kamu benar-benar bodoh. Tahu nggak, kalau jas ini dicuci, itu berarti pembersihan nilai-nilai sejarah. Kau memang tak pernah mengerti makna sejarah. Pergi sana, jangan ganggu aku lagi.”
“ Saya tidak bermaksud menghilangkan sejarah, atau apapun namanya, saya hanya ingin Bapak lebih nyaman memakainya dalam keadaan bersih.”
“Jadi menurutmu aku ini kotor, jorok, sehingga apa-apa yang kupakai harus dibersihkan, dicuci, begitu???!!!”
Kalau sudah panas begini, Sentot hanya bisa menarik nafas panjang dan pamit. Ia iba kepada bapaknya yang kini semakin sensitif, mudah marah dan menuduh orang dengan yang bukan-bukan. Ia sadar betul bahwa semakin lanjut usia seseorang, ia akan mengalami perubahan pola pikir dan sikap. Tapi mengapa bapaknya sama sekali tak mau mengerti maksud baiknya ? Perlukan ia melakukan pemaksaan atau tipu daya agar bisa menghentikan perilaku aneh bapaknya ?
***
Angin berhembus malas. Daun-daun membeku oleh dinginnya malam. Suasana redup. Manusia terlelap dalam buaian mimpi. Namun tidak bagi pemilik jas merah itu. Kebisuan malam menjadi saksi abadi. Keheningan terpecah oleh suara teriakan menyayat yang datang dari rumah lelaki tua itu.
“Tolong, jangan kau jarah jasku, jangan, toloooong…. Aaakh…..”
Para tetangga terjaga dan berhambur menuju rumah tua. Orang-orang berlarian. Para wanita menjerit histeris. Ditemukan mayat lelaki tua itu terbujur kaku dengan tujuh belas luka tikaman di sekujur tubuhnya. Darah segar masih mengalir deras.
Telah terjadi perampokan. Telah terjadi pembunuhan. Telah terjadi penghapusan sejarah..!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Introduction