Selasa, 06 April 2010

BERCERMIN PADA FATIHAH KITA (1)


Setiap hari kita wajib mendirikan shalat sebanyak lima kali dengan rakaat yang berjumlah 17. Kurang dari itu,seorang muslim akan dipertanyakan keislamannya. Bangunan keislaman seseorang akan dinilai kokoh ketika pelaksanaan shalatnya lengkap dan sempurna. Sebaliknya, kehancuran pilar-pilar keislaman seseorang bergantung pada pengabaikan shalatnya. Dalam shalat, kita wajib membaca surat al-Fatihah pada setiap rakaat. Tanpa itu, rakaat yang dilakukan dianggap tidak sah, kecuali statusnya sebagai makmum masbuq dalam shalat jamaah. Oleh sebab itu, dalam satu hari, seorang muslim pasti membaca surat pembuka kitab itu paling tidak sebanyak 17 kali. Pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa harus berkali-kali?

Allah sangat paham karakter manusia. Untuk menancapkan sebuah keyakinan dalam hati seseorang, perlu sejumlah proses pengulangan. Eksperimen dan ekperien keberagamaan menjadi penting. Keyakinan seseorang akan begitu mendalam jika ia melihat, merasakan, atau mengalami hal tertentu beberapa kali. Misalnya, air mendidih dapat menyebabkan kulit melepuh. Jika belum ada kasus yang menunjukkan hal itu beberapa kali, niscaya orang tidak akan percaya. Karena banyaknya pengalaman yang menguatkan statemen bahwa air mendidih itu panas dan karena itu jika mengenai kulit akan membuatnya melepuh, maka dengan penuh keyakinan, orang tersebut akan waspada ketika berdekatan dengan air mendidih. Contoh lain, bir itu memabukkan. Pada awalnya, orang beranggapan bahwa bir hanyalah sebuah jenis minuman biasa. Tetapi, karena banyaknya kasus yang mengindikasikan bahwa bir bisa membuat orang tidak dapat mengontrol kesadaran dirinya, maka akhirnya dipercaya bahwa bir bisa memabukkan. Keyakinan ini tentu tidak lepas dari proses pengulangan yang terjadi.

Hal ini sama dengan perintah shalat yang diwajibkan Allah kepada hamba-Nya yang beriman. "Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku" demikian firman Allah tentang tujuan utama shalat. Shalat tidak hanya rangkaian gerakan dari takbiratul ihram hingga salam, lebih dari itu, shalat adalah sekumpulan doa yang menghubungkan seorang hamba untuk lebih dekat dengan penciptanya. Kesadaran itu tercermin dalam bait-bait bacaan dalam shalat termasuk surat al-Fatihah. Karena banyaknya bacaan dalam shalat, baiklah pada kesempatan ini, kita fokuskan bahasan tulisan ini kepada surat al-Fatihah.

Surat al-Fatihah diawali dengan basmalah. Mayoritas ulama sepakat bahwa lafal basmalah merupakan ayat pertama dalam surat al-Fatihah. Hal ini dapat dilihat pada setiap lembar pertama al-Qur'an yang memberikan angka 1 pada kalimat basmalah ini. Basmalah mengandung pernyataan kesadaran seseorang akan keberadaan Tuhannya, "Dengan menyebut Nama Allah, yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang." Allah diakui sebagai nama agung (lafal jalalah) yang mengungguli sekian nama tuhan buatan manusia. Diakui bahwa kesadaran akan ketuhanan selalu bersemayam di hati manusia. Bahkan dalam berbagai penelitian ilmiah ditemukan dalam otak manusia, ada sebuah titik yang disebut sebagai Godspot. Titik ketuhanan ini selalu bergetar ketika seseorang menyadari kelemahan dirinya dan mengakui kebesaran sang Pencipta. Ia yakin, ada kekuatan besar yang berada di luar dirinya yang berkuasa mengontrol roda kehidupannya. Ia adalah Tuhan. Allah dalam al-Fatihah ini hendak menuntun manusia bahwa hanya Allah SWT-lah Tuhan yang patut disembah. Dia adalah Tuhan yang memiliki kasih sayang sempurna untuk semua hamba-Nya sepanjang masa, baik yang kelihatan mata maupun tidak, baik di bumi maupun di langit. Seluruh maha karya-Nya di jagat raya ini selalu menerima tumpahan cinta kasih-Nya. Dengan demikian, basmalah yang sering disebut sebagai induk dari surat al-Fatihah mendorong manusia untuk meneguhkan keimanan bahwa Allah adalah Tuhannya, Tuhan yang Maha Pengasih untuk kehidupan dunianya dan Maha Penyayang untuk kehidupan akhiratnya.Itulah sebabnya basmalah dianjurkan untuk dibaca di awal setiap perbuatan kita agar aktifitas kita itu menjadi bernilai ibadah dan akan mendapat perlindungan dari-Nya.

Ayat kedua adalah kalimat hamdalah yang berbunyi "Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam." Mustahil kiranya mencari tandingan atas kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Jelas, memang Dia adalah Tuhan yang Satu, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia tidak butuh pengabdian manusia tetapi sebaliknya justru manusia membutuhkan untuk mengabdi pada-Nya. Tentu merupakan tindakan tidak masuk akal ketika seorang manusia mengunggul-unggul dirinya dan menganggap sempurna dengan segala kemampuannya. Ia bahkan ingin menandingi Tuhan. Sungguh, segala pujian hanya milik Allah. Tak ada manusia manapun yang berhak atas sebuah pujian. Apa yang mampu dilakukan orang seorang manusia hanyalah manifestasi dari kekuatan Allah yang dititipkan pada dirinya. Misalnya, kesempatan menulis semacam ini tidak lepas dari energi Allah yang ditransfer melalui makanan yang diasup dan rangkaian anggota tubuh yang bekerja secara simultan. Jika Allah menghendaki lain, misalnya sakit mata, sakit kepala, atau sakit pada jemari, niscaya tulisan ini tidak akan pernah terwujud. maha Suci Allah, yang memiliki kekuasaan yang tiada batas. Ungkapan syukur hanya patut dipersembahkan untuk-Nya. Wa Allah a'lam (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Introduction