Sabtu, 24 April 2010

LOMBA BELI MOBIL


Beberapa minggu terakhir ini, ada warna baru di kampung Gus Muh. Sejumlah mobil berderet di pelataran rumah-rumah warga. Bukan mobil keluaran baru, tetapi paling tidak, mobil-mobil itu baru dibeli. Lomba beli mobil rupanya sedang melanda warga dusun Kauman itu.

"Gus, gimana pendapat sampeyan tentang banyaknya mobil di kampung kita ini?" tanya kang Karyo saat melintas. Gus Muh yang sedang menyirami bunga di halaman tampak tersenyum. Baginya, ini pertanda tingkat ekonomi warga mulai meningkat. Ia patut bersyukur akan hal itu.

"Yo, ora opo-opo tho, Kang. Itu kan hak mereka untuk membeli mobil. Semoga saja mobil mereka berkah dan manfaat, setidaknya dapat membantu tetangga jika nanti ada yang memerlukan."

"Bukan itu maksudku, Gus. Ini lho, ternyata ada beberapa warga yang bilang kepada saya bahwa jor-joran beli mobil itu dipicu rasa gengsi antar warga, sehingga ada yang nekad beli mobil dengan ngutang sana-sini sampek menggadaikan sertifikat rumah!"

"Waduh, mosok begitu, Kang? Aku kok baru denger. Sampeyan ini tahu aja tho, Kang? Suka nguping, ya?"

"Nggak gitu, Gus. Saya cuma prihatin, ternyata tingkat kedewasaan warga kita belum menggembirakan. Kemarin sore, saya sempat bertemu Pak Sembung yang mengeluh karena istrinya ingin punya mobil seperti yang lain. Padahal, untuk makan sehari-hari saja masih susah. Trus, tiga hari yang lalu, Pak Udin juga cerita kalau sertifikat rumahnya sedang dijaminkan ke bank untuk melunasi mobilnya. Dari situ, saya dapat menyimpulkan bahwa beberapa orang yang sekarang punya mobil itu ternyata didasari oleh persaingan kurang sehat."

"Lha kalau begini keadaannya, kita perlu menyadarkan mereka bahwa kebahagiaan itu bukan terletak pada kemewahan semata. Jangan sampai, bujukan hawa nafsu menyebabkan mereka tidak dapat berpikir sehat."

"Betul, Kang. Mobil memang perlu, tetapi ada yang lebih penting lagi, yakni kedamaian dan kebahagiaan batin. Kalau punya mobil tetapi kebutuhan pokoknya tidak terpenuhi, ini bisa bisa berbahaya. Oleh sebab itu, saya mohon Gus Muh sebagai tokoh yang dituakan di sini, berkenan untuk menasehati mereka," tukas Kang Karyo meyakinkan.

"Baik, Kang. Terima kasih. Saya akan berusaha untuk menyadarkan mereka semampu saya."

"Kalau gitu, saya permisi dulu, Gus. Assalamualaikum..."

"Wa alaikum salam..."

2 komentar:

  1. boleh saling berlomba asal kegunaanya juga diperlombakan untuk dakwah/kebaikan

    BalasHapus
  2. Baiklah gus, kami tidak akan ikut berlomba beli mobil seperti yang terjadi di kampung antah berantahnya gus muh. Yang pasti saya masih punya impian menbelikan mobil mobilan untuk Ian anakku.Gus Muh kayak kakak tertua kami yang menasehati kakak keempat yang berencana membeli mobil baru. Mendingan uangnya untuk beli rumah, bisa dikontrakkan dan harganya cenderung naik terus.

    BalasHapus

Introduction