Selasa, 18 Januari 2011

POTRET JAKARTA YANG MEMBUAT MIRIS HATI

Setelah beberapa hari istirahat di Bekasi, hari Senin kemarin saya memulai aktifitas dengan berkunjung ke lokasi penelitian di Ciputat. Saya sebenarnya merasa agak canggung melihat situasi Jakarta setelah enam bulan mendekam di sebuah kota kecil, Iowa City, AS. Bukan bermaksud sombong, saya sepertinya menjadi terbiasa dengan irama kehidupan yang tertib dan bersih di sepanjang perjalanan. Hal ini berbeda dengan apa yang saya temui saat keluar rumah di sini. Pemandangan yang dulu sudah lazim saya lihat kini benar-benar menjadi "mimpi buruk" yang harus saya hadapi dengan sabar. Berikut ini beberapa fakta yang langsung mencabik-cabik pikiran dan perasaan saya.

Pertama, ketika saya landing beberapa hari lalu, landscap yang terlihat dari udara membuat saya sedih. Bayangan saya tentang rapinya penataan pemukiman dan perkantoran di beberapa kota Amerika segera memicu iri hati. Mengapa gedung-gedung di Jakarta terlihat semrawut? Pendirian bangunan yang asal berdiri menjadikan Jakarta seperti hamparan mainan rumah-rumahan yang terkoyak. Posisi bangunan tidak searah seirama. Ini tentu berbeda dengan Chicago atau Washington DC. Dari ketinggian, gedung-gedung di sana bak miniatur bangunan yang sedap dipandang. Apalagi ketika salju menggunung, nampak semua bangunan berjajar tertib dalam selimut putihnya. Mengapa Jakarta beda? Mungkin, dinas tata kota belum berfungsi secara baik dan izin mendirikan bangunan tidak selalu dimiliki oleh setiap warga yang akan mengekspansi rumahnya. Berbeda dengan Amerika, sebelum ada bangunan, insfrastruktur seperti jalan raya dan saluran air sudah dibuat terlebih dahulu sehingga bentuk kota menjadi indah tertata.

Kedua, soal etika pengemudi di jalan. Sekali lagi walau dulu saya sempat terbiasa dengan kemacetan dan lalu lintas semrawut, kali ini saya harus berkali-kali meredam emosi tatkala banyak pengendara yang terlihat asal jalan dan asal melintas. Motor dengan begitu mudahnya potong jalan dan para pejalan kaki menyeberang dengan sesuka hati. Saya pun harus menyimpan rasa kesal ketika ada pengendara motor yang mendahului dari sebelah kiri atau menyeberang dengan memotong jalan dari kanan tanpa memberi aba-aba lampu, apalagi jika peristiwa itu di malam hari. Berkali-kali saya kaget dan hampir menabrak orang gara-gara etika lalu lintas benar-benar hanya di atas kertas. Menyaksikan situasi di negeri sendiri, duh, sepertinya saya tidak tahan berlama-lama di Jakarta.

Ketiga, keamanan pengendara. tatkala saya menumpang mobil di Amrik, kawan saya selalu mengingatkan untuk memakai seat belt. Dulu saya agak canggung dengan gaya hidup seperti itu tetapi lama kelamaan menjadi sebuah kebutuhan demi keselamatan sendiri. Juga, saat ada orang yang mau menyeberang, mobil-mobil sudah berhenti beberapa meter sebelum perempatan/pertigaan untuk memberi kesempatan kepada pejalan kaki melintas terlebih dahulu. Jalan-jalan nampak mulus tanpa lubang. Ketika melihat Jakarta, saya kemudian merindukan suasana aman saat berkendara di negeri Obama. Di sini, mobil dan motor berkejaran untuk maju tanpa peduli keselamatan pejalan kaki. Pengendara motor itu juga dengan santainya memacu kendaraan tanpa menggunakan pengaman kepala. Belum lagi anak-anak kecil yang bermain-main santai di boncengan. Jalan yang banyak lubang dan saluran air yang curam di kanan-kiri jalan membuat hati saya seperti tersayat. Saya membayangkan bila ada pengendara terpeleset ke bahu jalan sedikit saja, pasti akan ada korban jiwa. Ah, nyawa kok begitu murahnya di negeriku tercinta.

Keempat, dan ini paling memprihatinkan, bus-bus angkutan umum dalam kota yang kondisinya sudah tak layak pakai. Selain polusi udara yang menghitam, cara mencari penumpang juga sudah kelewatan, di luar batas-batas kemanusiaan. Lihat saja bus Koantas Bima 510 Jurusan Rambutan-Ciputat, bila belum penuh sesak sehingga bernafas pun susah, bis itu tak akan berangkat dan tetap mangkal di sekitar perempatan pasar Rebo. Murah memang ongkosnya, 2500 perak sudah bisa mengantar kita ke tujuan. Tetapi, di dalam bis, para penumpang tak peduli tua muda bak ikan pindang dan dijajar berdiri rapat dan berdesakan dengan keringat bercucuran. Kalau tidak ingat saya harus ke Ciputat, pasti saya tidak akan sudi naik bis ini. Kapan kita mempunyai transportasi yang nyaman dan manusiawi?

Saya berharap bahwa saya bisa menyesuaikan diri dan bersahabat dengan Jakarta. Tetapi dalam hati, saya menjerit dan meratapi kondisi bangsa ini. Apa yang salah? Mengapa mereka bisa tetapi kita tidak? Andai saja Jakarta punya sistem seperti kota-kota New York, DC, atau Chicago yang tertib, aman, indah, dan nyaman buat jalan-jalan di udara bebas nan bersih, saya pasti akan bangga untuk mengatakan bahwa Jakarta adalah ibukota negara saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Introduction